Makalah Hadits Sosial
Selasa, 30 Agustus 2016
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Kata Manusia berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Manu atau dari bahasa Latin yaitu Sens yang artinya berfikir atau berakal budi. Dan dikatakan Sosial karena manusia pun akan berinteraksi dengan manusia lain untuk kebutuhan hidupnya.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:714) manusia diartikan sebagai makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk yang lain). Sedangkan menurut Endang Saifuddin Anshari yang dikutip oleh. mahmud dan Tedi Priatna (2005:62) manusia adalah hewan yang berfikir. Berfikir adalah bertanya. Bertanya adalah mencari jawaban. Mencari jawaban adalah mencari kebenaran. Mencari jawaban tentang Tuhan, alam, manusia, artinya mencari kebenaran tentang Tuhan, alam, dan manusia. Jadi, pada akhirnya manusia adalah makhluk pencari kebenaran.
Sebelum kita berbicara jauh tentang manusia sebagai makluk sosial, tentunya dalam fikiran dan benak kita tentu terdapat fikiran bahwa pada dasarnya manusia itu makhluk tunggal atau individu. Sebagai bentuk atau asal mula adanya manusia sosial tentu diawali dengan keberadaan manusia dalam individu.
Individu itu sendiri berasal dari bahasa latin individuum yang artinya tidak terbagi. Manusia lahir sebagai makhluk individual yang bermakna tidak terbagi atau tidak terpisah antara jiwa dan raga. Setiap manusia pasti mempunyai berbagai perbedaan misalnya pada sifat atau tingkah lakunya, bentuk fisik dan lain sebagainya. Suatu individu pasti menyadari setiap perbedaan yang ada pada dirinya dan orang lain/individu yang lain.
Dengan kenyataan bahwa manusia itu tidak dapat berlangsung hidup sendiri maka terbentuklah manusia dalam jumlah yang kompleks kemudian mempunyai peranan yang baru yaitu manusia sebagai makhluk sosial.
Manusia sebagai makhluk sosial atau yang sering kita kenal dengan sebutan Zoon politicon adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan senantiasa membutuhkan bantuan dan adanya orang lain. Manusia sebagai makhluk sosial tentunya memiliki kecenderungan untuk hidup berdampingan dengan manusia lainnya.
Aristoteles adalah seorang filsuf yang mencetuskan istilah "Zoon Politicon".
Zoon Politicon merupakan sebuah istilah yang digunakan oleh Aristoteles untuk menyebut makhluk sosial. Kata Zoon Politicon merupakan padanan kata dari kata Zoon yang berarti "hewan" dan kata politicon yang berarti "bermasyarakat". Secara harfiah Zoon Politicon berarti hewan yang bermasyarakat. Dalam pendapat ini, Aristoteles menerangkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain, sebuah hal yang membedakan manusia dengan hewan.
Sedangkan menurut Adam Smith, ia menyebut istilah mahkluk sosial dengan Homo Homini socius, yang berarti manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya. Bahkan, Adam Smith menyebut manusia sebagai makhluk ekonomi (homo economicus), makhluk yang cenderung tidak pernah merasa puas dengan apa yang diperolehnya dan selalu berusaha secara terus menerus dalam memenuhi kebutuhannya.
Seperti contoh seorang bayi di Jerman yang ketemukan di dalam sebuah gua tertutup selama 18 tahun yaitu (tahun 1828) : setelah dibuka anak tersebut sangat bingung dan terkejut melihat keadaan kota. Ia berkaki empat dan tidak bisa bicara, dan sifat anak itu tidak ubahnya seperti rusa masuk kampung. Anak tersebut bernama Gaspar Hauser, anak seorang petani.
Dari contoh fenomena diatas jelaslah bahwa pada hakikatnya manusia tidak mungkin dapat hidup dengan baik tanpa mengadakan hubungan dengan manusia lain, baik hubungan maupun pergaulan dengan orang tuanya, kawan-kawan sebaya atau kelompok-kelompok sosial yang lain.
Bahkan S. Freud menegaskan bahwa pribadi manusia yang sering disebut ego tidak mungkin dapat terbentuk dan berkembang tanpa pergaulan dengan manusia lain dan dengan demikian tidak dapat berkembang sebagai manusia dalam arti selengkap-lengkapnya.
Menurut Ibnu Khaldûn dalam kitab Muqaddimah (2004: 525-526) mengatakan bahwa : Manusia adalah makhluk sosial, pernyataan ini mengandung arti bahwa seorang manusia tidak bisa hidup sendirian dan eksistensinya tidaklah terlaksana kecuali dengan kehidupan bersama. Dia tidak akan mampu menyempurnakan eksistensi dan mengatur kehidupannya dengan sempurna secara sendirian. Benar-benar sudah menjadi wataknya, apabila manusia butuh bantuan dalam memenuhi kebutuhannya
Selanjutnya manusia dapat dilihat dari aspek antropologi. Antropologi adalah studi tentang asal-usul, perkembangan, karakteristik jenis manusia. Dalam pandangan antropologi biologis, manusia adalah puncak evolusi dari makhluk hidup (Redja Mudyahardjo, 2008:17) Ilmu yang mempelajari tentang hakikat manusia disebut Antropogi filsafat.
Ayat atau Hadis yang Berkenaan Dengan Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Seperti yang telah diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa :
عَنْ أَبِيْ مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. (أخرجه البخارى(
Diriwayatkan dari Abi Musa ra. Dia berkata bahwa: "Rasulullah saw. pernah bersabda, Orang mukmin yang satu dengan yang lain bagai satu bangunan yang bagian-bagiannya saling mengokohkan. (HR. Bukhari)
Dari contoh hadis diatas dapat dipahami bahwa sejatinya antara manusia yang satu dengan yang lainnya itu saling terkait atau terikat satu sama lain. Sebagai imbal baliknya berarti manusia itu saling membantu dan tolong-menolong sesama. Manusia seperti itu, telah dicontohkan pada zaman Rasulullah saw. Yakni antara kaum Anshar yang dengan tulus dan ikhlas menolong serta merasakan penderitaan yang dialami oleh kaum Muhajirin sebagai penderitaannya. Perasaan seperti itu bukan didasarkan keterkaitan daerah atau keluarga, tetapi didasarkan pada keimanan yang teguh.
حَدِيْثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَذَكَرَ الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفُّفَ وَالْمَسْئَلَةَ: اَلْيَدُ الْعُلْيَى خَيْرٌ مِّنَ الْيَدِ السُّفْلَى، فَالْيَدُ الْعُلْيَى هِيَ الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى هِيَ السَّائِلَةُ
(أخرجه البخارى )
Ibnu Umar ra. Berkata, Ketika Nabi saw. Berkhotbah di atas mimbar dan menyebut sedekah dan minta-minta, beliau bersabda Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah, tangan yang di atas memberi dan tangan yang di bawah menerima.
Hadis diatas menjelaskan tentang hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang harus senantiasa menolong sesamanya, sekaligus anjuran bagi manusia untuk senantiasa berusaha dan memaksimalkan kemampuan sosial kita.
Salah satu bukti diciptakannya manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri ialah terdapat pada beberapa surat dibawah ini :
An Nisaa' (Wanita), Surat Ke 4 : Ayat 1
((((((((((( (((((((( ((((((((( (((((((( ((((((( ((((((((( (((( (((((( ((((((((( (((((((( ((((((( ((((((((( (((((( ((((((((( ((((((( (((((((( (((((((((( ( ((((((((((( (((( ((((((( ((((((((((((( ((((( ((((((((((((( ( (((( (((( ((((( (((((((((( (((((((( (((
Artinya :Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya[263] Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[264], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
[263] Maksud dari padanya menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa Yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan.
[264] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah.
Qs. Al- Hujurat (49) : Ayat 13
((((((((((( (((((((( ((((( (((((((((((( (((( (((((( ((((((((( ((((((((((((((( (((((((( (((((((((((( ((((((((((((((( ( (((( (((((((((((( ((((( (((( ((((((((((( ( (((( (((( ((((((( ((((((( ((((
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa -bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. Qs. Al-Hujurat (49) :13
Hakikat manusia sebagai makhluk sosial, berinteraksi dengan manusia lain juga tercantum dalam alqur’an yaitu :
c. Qs. Ar-Rum : Ayat 22
وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِلْعَالِمِينَ (الروم : 22)
Artinya : “ Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yangi mengetahui.
Peranan Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Manusia sebagai bagian dari masyarakat harus dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya di tengah-tengah berbagai kepribadian, adat istiadat, sifat-sifat, dan sikap-sikap berbagai manusia lainnya, golongan-golongan serta norma-norma kehidupan baik yang telah berlaku secara turun temurun atau yang diadakan oleh para penguasa. Di tengah-tengah lingkungan kehidupan masyarakat yang demikian kompleks, manusia harus menyadari dirinya bahwa ketenangan hidup dan kesejahteraan hidupnya adalah merupakan tantangan. Ia harus memainkan peranan dengan memperhatikan tata adat, norma-norma yang berlaku, folkways dan mores, yang dalam pengejawantahannya menjalankan tugas-tugas kemasyarakatan baik yang diterima ataupun yang akan diambil. Dengan demikian ia akan memperoleh dorongan-dorongan yang lebih besar dibandingkan dengan hambatan-hambatan atau pengaruh-pengaruh yang kurang baik yang dihadapinya.
Peranan dalam kehidupan bermasyarakat itu selalu dihubungkan dengan status sosial, apakah itu keadaanya di tengah-tengah masyarakat atau kedudukan yang diperolehnya dalam masyarakat, status atau posisi-posisi sosial baik yang telah diberikan atau yang masih harus diperjuangkan, yang dalam hal peranan manusia itu sendiri yang akan menentukannya.
Keberadaannya sebagai makhluk sosial, menjadikan manusia melakukaan peran-peran sebagai berikut.
Melakukan interaksi dengan manusia lain atau kelompok
Membentuk kelompok-kelompok sosial.
Menciptakan norma-norma sosial sebagai pengaturan tertib kehidupan berkelompok.
Manusia mempunyai pengaruh penting dalam kelangsungan ekosistem serta habitat manusia itu sendiri, tindakan-tindakan yang diambil atau kebijakan-kebijakan tentang hubungan dengan lingkungan akan berpengaruh bagi lingkungan dan manusia itu sendiri. Kemampuan kita untuk menyadari hal tersebut akan menentukan bagaimana hubungan kita sebagai manusia dan lingkungan kita. Hal ini memerlukan pembiasaan diri yang dapat membuat kita menyadari hubungan manusia dengan lingkungan. Manusia memiliki tugas untuk menjaga lingkungan demi menjaga kelangsungan hidup manusia itu sendiri dimasa yang akan datang.
Sifat-sifat Manusia Sebagai Mukmin Dalam Kehidupan Sosial
Sifat orang-orang mukmin dinyatakan oleh hadis Nabi Muhammad antara lain, seperti sabdanya:
عن النعما ن بن بشير رضي الله عنه يقول قال رسول الله ص .م. ترى المؤ منين في تراحمهم و توادهم وتعاطفهم كمثل الجسد اذا اشتكي عضوا تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى (رواه البخاري ومسلم عن النعمان بن بشير)
Artinya: Dari Nu’man Bin Basyir r.a. berkata : Rasulullah Saw bersabda : kamu perhatikan orang-orang mukmin dalam keadaan saling mengasihi, saling mencintai dan saling membantu. Mereka itu bagaikan satu badan, apabila salah satu anggota badan menderita, seluruh anggota badan itu merasakan sakit dan tidak tidur. (Riwayat Al Bukhori dan Muslim dari Numan bin Basyir).
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَيُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْه مَايُحِبُّ لِنَفْسِهِ. (رواه البخارى ومسلم وأحمد والنسائى (
Anas ra. berkata, bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidaklah termasuk beriman seseorang diantara kamu sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad, dan Nasai).
Sebagaimana diterangkan dalam banyak hadits tentang keutamaan orang yang saling mencintai karena Allah swt di antaranya:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَيْنَ الْمُتَحَابُّوْنَ بِجَلاَلِيْ اَلْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِى ظِلِّيْ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ
(رواه مسلم)
Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda, “pada hari kiamat Allah swt. akan berfirman, ‘di manakah orang yang saling terkasih sayang karena kebesaran-Ku, kini aku naungi di bawah naungan-Ku, pada saat tiada naungan, kecuali naungan-Ku. (HR. Muslim).
Sikap individualistis adalah sikap mementingkan diri sendiri, tidak memiliki kepekaan terhadap apa yang dirasakan oleh orang lain. Menurut agama, sebagaimana disampaikan dalam hadits di atas adalah termasuk golongan orang-orang yang tidak (sempurna) keimanannya. Seorang mukmin yang ingin mendapat ridha Allah swt. harus berusaha untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang diridhai-Nya. Salah satunya adalah mencintai sesama saudaranya seiman seperti ia mencintai dirinya, sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas. Hadits di atas juga menggambarkan bahwa Islam sangat menghargai persaudaraan dalam arti sebenarnya. Persaudaraan yang datang dari hati nurani, yang dasarnya keimanan dan bukan hal-hal lain, sehingga betul-betul merupakan persaudaraan murni dan suci. Persaudaraan yang akan abadi, seabadi imannya kepada Allah swt. Dengan kata lain, persaudaraan yang didasarkan karena Allah.
Beberapa contoh sifat-sifat yang dimiliki orang mukmin antara lain:
Orang mukmin selalu mengajak berbuat baik dan melarang perbuatan mungkar.
Orang mukmin mengerjakan sholat dengan khusyu dengan hati yang ikhlas.
Orang mukmin selain mengeluarkan zakat, tangan mereka selalu terbuka untuk menciptakan kesejahteraan umat dan memberikan sumbangan sosial.
Orang mukmin selalu taat kepada Allah dengan cara meninggalkan perbuatan perbuatan maksiat dan mengerjakan segala perintah menurut kesanggupan mereka.
Manusia membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Allah Subhanahu wa Taala menciptakan manusia beraneka ragam dan berbeda-beda tingkat sosialnya. Ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin, dan seterusnya. Demikian pula Allah Subhanahu wa Taala ciptakan manusia dengan keahlian dan Kepandaian yang berbeda-bedapula. Kebutuhan untuk berkelompok ini merupakan naluri yang alamiah, sehingga kemudian muncullah ikatan-ikatan bahkan pada manusia purba sekalipun.
Kita mengenal adanya ikatan keluarga, ikatan kesukuan, dan pada manusia modern adanya ikatan profesi, ikatan negara, ikatan bangsa, hingga ikatan peradaban dan ikatan agama.
Dalam kaitannya dengan hal ini, Allah berfirman:
((((((( ((((((((((((((( (((((((( ((((((((((((( (((((( (((((((((((( ( ((((((((((( (((( (((((((((( ((((((((((( ((((
Artinya: Sesungguhnya orang-orang mumin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Al Hujurat: 10).
Juga di dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar ra yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda:
Artinya: Orang muslim itu saudara bagi orang muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya dan tidak pula membiarkannya dizalimi.
Manusia harus manjalin tiga hubungan yang harmonis dengan tiga elemen di dunia ini, diantaranya dengan Tuhannya, manusia, dan alam. Alam akan terperlihara ketika manusia sadar bahwa dia membutuhkan alam untuk keberlangsungan hidupnya, terjadi ekploitasi terhadap alam dikarenakan manusia tidak beriman kepada Tuhannya, padahal Tuhan memberikan anugrah alam ini untuk diurus oleh manusia supaya seimbang dan tidak menimbulkan malapetaka bagi manusia sendiri, seperti dalam hadits Nabi SAW;
حد ثنا ابو بكر بن ابى شيبة ومسدد المعنى قالا حد ثنا سفيان عن عمرو عن ابى قا بوس مولى لعبد الله بن عمرو عن عبد الله بن عمرو يبلغ به النبي صلى الله عليه وسلم الراحمون يرحموهم الرحمن ارحموا اءهل الرض يرحمكم من فى السماء
Artinya : Mengajarkan kepada kita Abu Bakar Ibn Abi syaibah dan musaddad al-ma’na berkata Abu Bakar telah mengajarkan Sufyan dari Umar bin Qabus Maula Li ’abdillah dari Abdullah bin Umar sampai Abu Bakar kepadanya, Nabi SAW bersabda: yang merohmat kamu sekalian akan merahmat kamu yaitu allah swt, harus saling menyayangi terhadap ahli bumi maka akan merahmat kepada kamu dzat yang ada di langit.
Dalam kata “ ارحموا” menyatakan bahwa kita harus menyayangi terhadap segala apa yang ada di muka bumi ini, baik terhadap manusia, hewan, tumbuhan , dan lain-lain yang dikategorikan sebagai makhluk yang ada di muka bumi ini.
Manusia mengekplotasi alam sekitarnya maka dia sesungguhnya telah berbuat dholim pada dirinya dan tidak menyayangi terhadap alam. contoh, banjir yang melanda banyak daerah di Indonesia, karena manusia telah mengekplotasi alam dengan menebang pohon yang tidak memperhatikan keseimbangan alam dalam artian manusia tidak memakai etika tentang tata cara pemakaian sumber daya alam.
Untuk menciptakan tatanan sosial yang tentram dan nyaman bagi semuanya manusia dituntun untuk menjaga lisan, tangan, darah dan hartanya seperti hadis Rasullah;
حد ثنا قتيبة حد ثنا الليث عن ابن عجلان القعقاع بن حكيم عن ابي صالح عن ابى هريرة قال قال رسول الله عليه وسلم :المسلمو من سلم المسلمون من لسنانه ويده والمؤمن من امنه الناس على دمائهم واموالهم
Artinya : Telah mengajarkan Kutaibah telah mengajarkan al-Laitsu dari ibnu A’jlan dari Qa’qa’i bin Hakim dari Abi Sholih dari Abi Khurairah berkata Abu Khurairah bahwa Nabi saw bersabda; yang disebut orang muslim adalah orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dan yang disebut orang mu’min adalah orang yang menjaga darah-darah manusia dan harta-hartanya.
Langganan:
Postingan (Atom)